praktikum pengujian boraks pada makanan

Mata Kuliah : PMM-A
Dosen.          : Khiki Purnawati Kasim, S.ST, M. Kes


PEMERIKSAAN BORAKS PADA MAKANAN
SECARA KUALITATIF


Musdalipah
PO714221181072


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI SANITASI LINGKUNGAN
II B
2020
A. DASAR TEORI
Pada umumnya dalam pengelolaan makanan selalu diusahakan untuk menghasilkan produk makanan yang disukai dan berkualitas baik. Makanan yang tersaji harus tersedia dalam bentuk dan aroma yang lebih menarik, rasa enak, warna dan konsistensinya baik serta awet. Untuk mendapatkan makanan seperti yang diinginkan maka sering pada proses pembuatannya dilakukan penambahan “Bahan Tambahan Pangan (BTP)” yang disebut zat aktif kimia (food additive) (Widyaningsih, 2006). BTP ditambahkan untuk memperbaiki karakter pangan agar memiliki kualitas yang meningkat. BTP pada umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan diuji sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ada. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai aturan yang diperlukan untuk mengatur pemakaian BTP secara optimal (Syah, 2005).
Adapun bahan kimia berbahaya yang bukan ditujukan untuk makanan, justru ditambahkan kedalam makanan adalah formalin, boraks, rhodamin B, methanil yellow. Diantara beberapa jenis bahan kimia berbahaya tersebut yang paling sering digunakan secara bebas di masyarakat adalah formalin dan boraks.
1. Boraks
Boraks adalah senyawa kimia turunan dari logam berat boron (B). Boraks merupakan anti septik dan pembunuh kuman. Bahan ini banyak digunakan sebagai bahan anti jamur, pengawet kayu, dan antiseptik pada kosmetik13. Sifat fisik boraks yaitu berbentuk serbuk kristal putih padat yang tidak berbau, larut dalam air, gliserol dan tidak larut dalam alkohol. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 722/ MenKes/Per/IX/88 boraks dinyatakan sebagai bahan berbahaya dan dilarang untuk digunakan dalam pembuatan makanan.

2. Bakso
Bakso adalah jenis makanan yang berupa bola-bola yang terbuat dari daging dan tepung. Makanan ini biasanya disajikan dengan kuah dan mie. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan bakso adalah daging, bahan perekat, bumbu dan es batu/ air es (Singgih, 2009).
Menurut Astawan (2004), kualitas bakso sangat ditentukan oleh  kualitas daging, jenis tepung yang digunakan, perbandingan banyaknya  daging dan tepung yang digunakan untuk membuat adonan, dan   pemakaian jenis bahan tambahan yang digunakan, misalnya garam dan bumbu-bumbu juga berpengaruh terhadap kualitas bakso segar. Penggunaan daging yang berkualitas tinggi dan tepung yang baik disertai dengan perbandingan tepung yang besar dan penggunaan bahan tambahan makanan yang aman serta cara pengolahan yang benar akan dihasilkan produk bakso yang berkualitas baik. Bakso yang berkualitas baik dapat dilihat dari tekstur, warna dan rasa.
3. Kunyit
Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn. Curcuma domestica Val.), adalah termasuk salah satu tanaman rempah-rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Dalam bahasa Banjar kunyit atau kunir ini dinamakan "Janar".
Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, Zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric (Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), janar (Banjar), kunir (Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura).
  Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin , desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren , sabinen , borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung lemak sebanyak 1 -3%, karbohidrat sebanyak 3%, protein 30%, pati 8%, vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui alat dan bahan yang digunakan pada pemeriksaan makanan
2. Untuk mengetahui cara pemeriksaan boraks pada makanan secara kualitatif
3. Menganalisis keberadaan bahan pengawet boraks dalam sampel bakso 

C. ALAT DAN BAHAN
- Sampel makan (bakso)
- Rimpang kunyit / kunyit basah
- Stik bambu / tusuk gigi
- Wadah

D. PROSEDUR KERJA
1. Siapkan alat dan bahan
2. Stik bambu / tusuk gigi ditusukkan ke kunyit dan diamkan beberapa saat
3. Setelah itu, cabut stik bambu / tusuk gigi dari kunyit lalu segera tusukkan di sampel bakso dan diamkan beberapa saat
4. Kemudian cabut stik bambu / tusuk gigi dari sampel bakso tersebut
5. Amati perubahan warna yang ada pada ujung stik bambu / tusuk gigi tersebut
Apabila warna pada tusuk gigi tersebut berubah menjadi warna orange kemerah-merahan berarti sampel bakso tersebut positif boraks / mengandung boraks. 

E. HASIL
Dari praktikum yang dilakukan, bahwa sampel bakso yang diperiksa negatif boraks / tidak mengandung boraks karena pada ujung tusuk gigi tidak mengalami perubahan warna.

F. ANALISA HASIL
Dari hasil yang didapatkan bahwa bakso yang telah di periksa tidak mengandung boraks. Seperti yang diketahui Boraks sangat berbahaya bagi Kesehatan karena Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruhnya terhadap organ tubuh tergantung konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh. Karena kadar tertinggi tercapai pada waktu diekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ yang lain. Dosis tertinggi yaitu 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan 5 gr/kg berat badan anak-anak akan menyebabkan keracunan bahkan kematian. Sedangkan dosis terendah
yaitu dibawah 10-20 gr/kg berat badan orang dewasa dan kurang dari 5 gr/kg berat badan anak-anak. Sering mengkonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan bahkan kematian.

G. KESIMPULAN
Dari hasil pemeriksaan boraks secara kualitatif menggunakan tusuk gigi yang telah ditusukan pada kunyit. Dapat disimpulkan bahwa bakso tersebut layak di konsumsi karena tidak mengandung boraks dan pada tusuk gigi tidak terjadi perubahan warna. Jika bakso mengandung boraks, maka tusuk gigi akan mengalami perubahan warna menjadi orange kemerah-merahan.

H. SARAN
Dalam membeli atau mengkonsumsi makanan kita harus memperhatikan baik-baik kualitas makanan tersebut. Karena makanan yang tidak sehat akan membahayakan Kesehatan kita sendiri.




DAFTAR PUSTAKA

Dandik widayat. 2011. Uji kandungan boraks pada bakso. Fakultas Kesehatan masyarakat, Universitas Jember. https://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/5517/skripsi.pdf?sequence=1 (Diakses pada 30 april 2020).
Janny, MS.MA. 2009. Asam borat dan Borax di Makanan. http://www.cfs.gov.hk/english/multimedia/multimedia_pub/multimedia_pub_f sf.html (Diakses pada 30 april 2020).
Fardiaz, S. 2007. Bahan Tambahan Makanan. Institut Pertanian Bogor. Bandung. http://perpustakaan.pom.go.id/KoleksiLainnya/Buletin%20Info%20POM/011 0.pdf (Diakses pada 30 april 2020).



LAMPIRAN

Gambar tusuk gigi yang negatif boraks

Komentar

  1. Laporannya sangat bermanfaat dan mudah dipahami

    BalasHapus
  2. Jelas dan sangat bermanfaat bagi para pembaca

    BalasHapus
  3. Laporan sangat bermanfaat dan mudah dipahami

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat dan mudah di pahami

    BalasHapus
  5. Laporannya singkat, jelas dan mudah dimengerti

    BalasHapus
  6. Sangat bermanfaat dan mudah dipahami

    BalasHapus
  7. Sangat jelas mudah di pahami 👍🏻

    BalasHapus
  8. Laporannya sangat bagus dan mudah dimengerti

    BalasHapus
  9. Bermanfaat min...terima lasih atas infonya

    BalasHapus
  10. Bermanfaat min...terima lasih atas infonya

    BalasHapus
  11. Semoga bermanfaat bagi masyarakat🙏

    BalasHapus
  12. laporannya bagus dan jelas. sangat bermanfaat

    BalasHapus
  13. Sangat bermanfaat dan mudah di pahami

    BalasHapus
  14. Sangat bermanfaat dan mudah dipahami👍

    BalasHapus
  15. Bagus dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  16. Sangat membantu ,cocok dijadikan referensi

    BalasHapus
  17. Terima kasih isi materinya, sangat membantu

    BalasHapus
  18. sangat membantu dan mudah untuk dipahami

    BalasHapus
  19. Singkat, jelas dan tidak bertel-tele jdi mudah dipahami 👍🏻

    BalasHapus
  20. Terimakasih, materinya sangat membantu

    BalasHapus
  21. pengujian yang dilakukan sangat menarik, materi dan hasilnya juga dijelaskan dengan baik sehingga mudah dipahami terima kasih

    BalasHapus
  22. laporannya bagus lengkap dan jelas

    BalasHapus
  23. Laporannya sangat bermanfaat, tapi mungkin penulisannya sedikit lebih dirapikan lagi. Ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  24. Sangat bermanfaat,dan juga mudah d pahamii

    BalasHapus
  25. Duh, jadi pengen makan.. Ohiya puasa.

    Makasi infonya kakak

    BalasHapus
  26. Sangat mendetail dan menarik, materi dan hasilnya juga dijelaskan dengan baik sehingga mudah dipahami nice.
    I like the way you work

    BalasHapus
  27. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  28. Gambar tdk lengkap.
    Analisa panjang tapi tdk menjelaskan hasil yg didapat dan kesesuaian dgn tujuan dan dasar teori.
    Saran tidak operasional, artinya tidak menjelaskan cara memperhatikan makanan yg dikonsumsi kaitanx dgn borax.

    BalasHapus

Posting Komentar